Waahhh judulnya keren ya?? fenomenal dan epik gimanaaa gitu,, sengaja biar kalian mau baca, hehe.. saya sengaja sedikit bersusah-susah dan berpayah-payah meniatkan diri untuk bisa khusus membahas makanan yang epik dan fenomenal satu ini,karena mungkin bagi yang mengikuti status saya di Facebook ( https://www.facebook.com/PratamaEkoYulianto ) dan kicauan saya di Twitter ( https://twitter.com/pratamaLFC20 akan sedikit membuat dahinya “berundak-undak” (sorry gue ga tau ungkapan yg tepat antara mengerenyitkan, menyeritkan, atau mengernyitkan) karena betapa seringnya saya memakai filosofi nasi padang untuk membentuk kata-kata bijak yang berhubungan dengan falsafah hidup, “kenapa sih nasi padang? kenapa bukan pizza, kan lebih enak?”- Ira Pratama, “Wah un kamu laper ya?dari kemarin nasi padang mulu yg dibahas?”- Eurydice Priska, sedikit banyaknya (ini maunya sedikit apa banyak sich?!!)

 seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan domba-domba terlantar tersebut karena ketidak tahuan mereka tentang betapa Agungnya (ini bukan nama tempat foto copy di pertigaan tiga dara loh..) arti dari sebungkus nasi padang itu, yang jadi pertanyaannya adalah seperti apa pelajaran yang bisa diambil dari sebungkus nasi padang itu? setelah sekian lama mengagumi dan mendalami dunia pernasi padangan (maksa bgt kata-katanya..) saya menjadi sedikit lebih tau apa makna dibalik nasi padang yang membuatnya menjadi epik dan fenomenal;

 

1. Tanggung Jawab.

Tau kan kalau kalian masuk ke rumah makan padang di meja makannya sudah tersaji bermacam-macam lauk yang bisa di ambil sesukanya asal sesuai dengan budget di kantong? nah seperti itulah pelajaran tentang tanggung jawab tergambar, di dalam hidup kita boleh-boleh saja mengambil jalan akan seperti apa hidup ini akan kita tempuh, namun yang namanya hidup pasti selalu berhubungan dengan dampak dan resiko,dan akan menjadi tanggung jawab kita sendiri tentang apa yang akan menjadi resiko hidup yang kita pilih sendiri dan tentu saja orang lain tidak akan menanggung beban atas apa yang kita jalani betapaun baiknya sahabat kamu atau betapa cintanya pacar kamu ke kamu “manusia itu akan tetap menjadi serigala bagi manusia lainnya”

(mmeeeoooonngggg… = suara serigala) sama halnya seperti bagaimana kita menentukan lauk apa yang akan kita pilih, ga mungkin kan tiba2 ada orang yang mau menanggung bon atas lauk yang kamu makan? (kecuali traktir,, itu beda lagi).

 

2. Perjuangan, Tekad, dan Kerja Keras.

Kalian tentu sering heran bagaimana rahasianya uda-uda pelayan  warung nasi padang bisa membawa piring yang berisi pesanan pelanggan yang segitu banyaknya dalam sekali antar, pake dua lengan pula, bahkan ada yang sampe naruh piring di jidat dan hidungnya loh (kadang2 kalau uda-udanya lagi galau emang suka aneh,, beneran..) meskipun banyak dan berat serta mustahil dilakukan, tetapi dia tetap berusaha mengantarkan pesanan itu ke meja pelanggan.seperti itulah kira-kira hidup, kita terkadang sering menemukan banyak masalah di kehidupan yang kita jalani, tetapi nggak mungkin kan kita lalu menyerah terus minum racun Combantrin rasa jeruk? (itu termasuk pestisida lho karena ngebunuh hama cacing di dalam perut, udah..percaya ama gue…) tentunya kita harus bisa move on donk, harus bisa bangkit dari keterpurukan lalu bekerja keras demi pencapaian atas cita-cita kita, tekad seperti uda-uda tadilah yang harus kita contoh, tentang apapun kesulitan kita bagaimanapun berat atau banyaknya, kita harus tetap berjuang menjalaninya, atau apabila mungkin telah sampai di titik terendah sebuah perjuangan itu kita usahakan, setidaknya kita telah berjuang mendorong mimpi-mimpi kita lebih tinggi lagi keatas agar Tuhan bisa dengan mudah melihatnya lalu mewujudkannya..

 

3. Kualitas diri.

Nggak selamanya lauk nasi padang itu daging-dagingan, kayak rendang, ayam kapau, dan lain-lain. Ada juga lho nasi padang yang isinya hanya sambal tunjung dan sayur daun singkong dan pucuk pepaya, dan harganya bisa sekitar tujuh sampai delapan ribu rupiah (di Lombok) lebih mahal dari nasi bungkus biasa yang harganya 3.500-5000 rupiah per-bungkus walaupun isinya daging ayam atau telur yang notabenenya lebih mahal, bayangkan saja daging sekarang sekilo bisa sampai 50.000, ayam satu potong minus jeroan dan ceker bisa sampai 35.000, trus bawang aja udah naik ke 12.000, trus beras, belum lagi BBM yg awalnya 4.500 mau ke 7000 (loh ini larinya kemana sih???!!!!) kenapa bisa nasi padang yang isinya hanya sayur bisa lebih mahal dari nasi bungkus biasa yang isinya daging? Jawabannya adalah kualitas bung! Seperti itulah hidup, terkadang orang sibuk mempermak diri agar terlihat cantik/tampan, atau bergelimang barang bermerek atau mewah, tetapi attitude dan pola pikir nol besar, sehingga apa yang ia coba tampilkan kalah cemerlang dengan sebagian orang yang mempunyai kualitas diri yang bagus dari hasil pola pikir yang cerdas dan attitude yang baik, terkadang orang2 seperti itu terlihat lebih bersahaja namun selalu terlihat bahagia menjalani hidupnya seraya menyeret prestasi yang banyak di belakangnya, tanpa perlu kawatir akan seperti apa penampilannya hari ini atau bingung sepatu keluaran terbaru terlalu mahal baginya.

 

4. Pembeda.

Selera orang-orang akan nasi padang mungkin berbeda-beda, karena itulah uda-uda nasi padang sering mengikat bungkus nasi padang dengan karet yang berwarna-warni, misalnya yang hijau untuk yang nggak pedas, yang merah untuk pedas, dan yang kuning untuk hati-hati dalam berkendara (kalau itu traffic light ya???). sama seperti kita, mungkin kita dengan manusia yang lain sama-sama mempunyai mata, kaki, dan tangan, namun yang membedakan kita dari manusia lainnya adalah perilaku kita sendiri, misalnya Ade yang preman tentu berbeda tingkat kebejatannya dengan April yang mencoba menjadi ustadz (dua nama tadi adalah nama samaran,,, sueerrr). Perilaku adalah point penting yang membuat kita berbeda dari manusia lainnya, sejauh mana baiknya perilaku kita tentu akan berpengaruh dengan cara pandang orang lain atas kita, apakah orang lain akan menganggap kita brengsek, homo, atau baik itu tentu atas hasil dari perilaku yang seperti apa yang kita tunjukkan, itulah pembeda yang mengindikasikan sejauh mana kita bisa membuka zona nyaman untuk orang-orang agar lebih bahagia bersama kita.

 

5. Down to Earth

Down to earth disini maksudnya bersahaja atau sederhana, bukan loncat dari bukit terus nyungsep ke bumi loh (kecuali kalau kamu mau ngebuktiin teori gravitasinya Newton silahkan aja dicoba), dimulai dari parkiran, segala jenis transportasi ada terparkir disana, dari sepeda onthel sampai fixie, dari motor sampai mobil, dari becak,dokar /andong sampai pesawat (pesawat-pesawatan maksudnya..) ada disana, ini membuktikan betapa beragamnya tingkat ketebalan kantong orang-orang yang makan disana, kita tentu tak akan heran mengapa pejabat seperti din syamsyudin (ketua pp muhammadiyah) anas urbaningrum (ketua umum demokrat) sampai saya (mukanya ketuaan) tidak sungkan-sungkan makan disana, kenapa? Mereka kan mampu makan di restoran mewah, bisa memesan steik? (bukan besi panjang buat mukul bola golf). Jawabannya adalah nasi padang adalah makanan yang setelah kita makan, cita rasa pribuminya yang sungguh sederhana,nikmat dan merakyat akan terasa lama sampai kita mengeluarkannya di WC, harganya pun cocok untuk semua orang, pas lah,,  sama halnya seperti manusia, setinggi apapun jabatannya atau sedikit banyaknya pencapaian yang ia raih seyogyanya essence kesederhanaan itu harus tetap dijaga, jangan samapai seperti kacang lupa kulitnya atau ayu ting ting yang lupa alamat rumah pacarnya. Karena dari kesederhanaan itulah kita akan tau lebih banyak tentang betapa beruntungnya kita memiliki situasi yang kita jalani sekarang, betapa banyaknya orang-orang yang bersedia menggantikan posisi kita atas apa yang kita jalani saat ini yang kadang-kadang kita jengah dan selalu mengeluh tentang apa yang terjadi atas kita saat ini, karena kesederhanaan itu pulalah yang akan mengubah kita menjadi pribadi yang bersyukur atas apa yang kita dapatkan saat ini, dan selalu menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya, karena mungkin di pelosok dunia bagian lainnya banyak yang menangis bahkan berdarah-darah dalam berdoa menginginkan kehidupan yang sedang kita jalani.

 

Mungkin hanya ini dulu filosofi yang bisa saya ambil dari sebungkus nasi padang, kalo ada yang lain menurut kalian silahkan di share ya di comment.

 

Oleh : Pratama Eko Yulianto

e-mail: pratama_2026@yahoo.co.id

twitter: @pratama_2026