Fotografi, tentu perlu kamera dan lensa. Dengannya, berbagai macam foto bisa didapatkan tergantung hobi dan gaya memotret si empunya. Kamera jaman dulu yang cuma memakai lensa fix 50mm, bisa dipakai untuk banyak kebutuhan fotografi. Sejak era lensa zoom, fotografer makin dimanjakan karena bisa berkreasi dengan perspektif, sudut gambar dan komposisi yang beragam. Tapi tahukah anda, saat ini bila seseorang ingin lebih serius menekuni fotografi, gear atau peralatannya perlu semakin ditambah. Repotnya, beda hobi, beda keminatan fotografi bisa berbeda juga gearnya.

Kami coba ulas beberapa keminatan atau cabang fotografi yang umum saja, yaitu potret, landscape, makro dan sport/aksi. Ternyata untuk lebih bisa maksimal dalam menekuni hobinya, kita perlu lebih dulu menentukan minat dan cabang fotografi mana yang mau kita tekuni. Dari situlah baru kita bisa menginvestasikan gear yang sesuai dan efektif.

Foto potret

Ciri foto potret adalah adanya wajah manusia dalam foto (tentu saja kan..). Foto potret yang lebih disukai adalah yang latar belakangnya dibuat blur, supaya fokus atau atensi kita tertuju pada si orang yang difoto. Pencahayaan potret umumnya terbagi dua : alami dan buatan (atau gabungan keduanya). Cahaya alami akan sangat ditentukan waktu, arah cahaya dan sumbernya, sedang yang buatan biasanya dari fill flash hingga strobist. Foto potret juga diharapkan bisa menghasilkan warna kulit yang natural dan tidak terlalu tajam.

potret

Peralatan yang umum dipakai dalam fotografi potret :

  • kamera DSLR bebas
  • lensa fix dengan fokal menengah hingga tele (misal 50mm f/1.8 atau 85mm f/1.4)
  • lensa tele dengan bukaan besar (misal 70-200mm f/2.8)
  • lensa allround dengan bukaan besaar (misal 24-70mm f/2.8)
  • flash eksternal
  • aksesori flash : trigger, diffuser, payung, softbox, reflektor

softbox

Gambar diatas adalah contoh softbox dengan sumber cahaya sebuah lampu flash eksternal, yang cocok untuk membentuk cahaya buatan pada foto potret. Bila disimpulkan, foto potret identik dengan lensa bukaan besar untuk bokeh yang baik, lalu perlu flash dan aksesorinya untuk membentuk dan mengarahkan cahaya.

Foto landscape

Foto landscape sangat diminati karena sambil hunting bisa sambil travelling, bahkan menjurus ke adventure. Hasil foto landscape yang sukses juga bisa dibanggakan bahkan bisa dijual. Kendala landscape yang utama adalah pemilihan lokasi dan waktu yang tepat, lalu banyak faktor luar yang bisa bikin gagal (hujan, banyak turis, sunset tertutup awan dsb). Landscape memang tidak harus selalu identik dengan foto wideangle, meski memang harus diakui kalau wideangle bisa memberi kesan luas yang biasanya lebih disukai. Landscape juga perlu kejelian memilih obyek, seperti langit, pepohonan, air dan bebatuan. Masalah terberat landscape adalah kontras tinggi antara langit yang terik dan bumi yang lebih gelap. Tapi itulah tantangan dari foto landscape, dan banyak usaha yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala itu.

landscape

Gear para fotografer landscape :

  • kamera DSLR, resolusi tinggi lebih baik, weather sealed lebih baik
  • lensa wide/ultrawide untuk kesan luas (misal 12-24mm f/4)
  • lensa lain untuk antisipasi (bisa lensa allround seperti 24-70mm f/2.8 atau lensa sapujagat 18-200mm)
  • tripod, yang kokoh, berbahan karbon, yang kakinya bisa dibentangkan sangat lebar
  • filter (ND, gradual ND, CPL)
  • cable release

graduated_nd_filter

Gambar diatas adalah contoh filter graduated ND yang dipasang didepan lensa. Bila disimpulkan, foto landscape sering diidentikkan dengan gear berupa lensa wide, tripod dan filter ND/grad ND serta CPL. Dalam banyak kasus tidak dibutuhkan penggunaan flash eksternal.

Foto makro

Mendapatkan detail dari obyek yang sangat kecil tentu menantang, dan bila berhasil maka hasilnya akan menarik dan unik. Foto makro idealnya punya rasio reproduksi 1:1 alias life size. Tantangan foto makro adalah menemukan obyek yang menarik (obyek serangga akan lebih menantang karena sulit didekati) lalu kesulitan lain adalah di area fokus yang sempit (depan fokus, belakang blur) meski sudah mengecilkan bukaan. Selain itu makro identik dengan lensa yang tajam, dan bisa mengunci fokus dalam jarak dekat.

macro-ring-flash

Gear para fotografer makro :

  • kamera DSLR, resolusi tinggi lebih baik
  • lensa makro, dengan rasio reproduksi 1:1 (misal 60mm, 90mm atau 105mm)
  • lensa lain dengan teknik khusus (reverse lens atau extention tube)
  • close up filter
  • ring type flash (berbentuk bulat melingkari lensa)
  • tripod untuk mencegah blur saat memotret
  • alternatif murah lainnya : lensa zoom yang mengklaim bisa makro (misal 17-70mm) tapi lensa ini tidak bisa 1:1 sehingga belum layak disebut lensa makro

Bila disimpulkan, foto makro memang perlu lensa 1:1 dan akan lebih baik pakai flash khusus yang berjenis ring seperti contoh gambar diatas.

Foto sport/aksi

Ciri utama dari foto sport atau aksi adalah obyeknya bergerak, dan tujuan fotonya adalah membekukan gerakan untuk menangkap ekspresi atau momen yang diharapkan. Dari sini bisa dibayangkan tingkat kesulitan foto sport adalah kecepatan dan timing, sehingga selain pengalaman dibutuhkan juga gear yang mendukung minat fotografi ini. Faktor eksternal seperti cahaya lingkungan juga sangat menentukan tingkat kesulitan foto sport, karena kita tahu foto dengan shutter cepat tentu perlu cahaya banyak.

70-200s

Gear para fotografer sport :

  • kamera DSLR dengan kemampuan continuous shooting yang cepat, modul auto fokus yang akurat dan buffer yang besar
  • lensa tele dengan bukaan besar (misal 70-200mm f/2.8) dan motor fokus yang cepat (SWM untuk Nikon atau USM untuk Canon)
  • alternatif lensa murah : lensa tele dengan motor fokus yang cepat seperti AF-S 70-300mm, resikonya di kamera perlu menaikkan ISO ke angka tinggi untuk dapat shutter cepat
  • monopod untuk menahan bodi dan lensa supaya stabil
  • kartu memori dengan kecepatan tulis yang tinggi (misalnya kelas 10 untuk SD card)

Bila disimpulkan, gear yang cepat menjadi syarat wajib foto aksi (misal kamera dengan 8 fps), plus lensa bukaan besar untuk mendukung kecepatan kamera. Bila lensa bukaan besar terlalu mahal, bisa lensa lain dengan bukaan variabel tapi tetap harus yang punya motor fokus cepat seperti USM atau SWM. Untuk sport, jangan memakai lensa tele murah seperti Canon EF-S 55-250mm atau Nikon AF-S 55-300mm yang auto fokusnya lambat.

Dengan speed tinggi tripod memang tidak dibutuhkan, tapi sebuah monopod akan membantu untuk menahan bobot kamera dan lensa saat kita harus menunggu momen hingga berjam-jam lamanya.