Awalnya saya lagi konsen buat nonton film Jang Geum Suk dan Yoona di film “Love Rain” di laptop, tapi tia-tiba si Adek nyalain TV dan munculah sebuah film yang sudah begitu lama saya cari,, “Kingdom of Heaven” kecantikan Yoona pun gue alihin ama kegantengan Orlando Bloom (Homo.. -__-“), setelah begitu khusyuk menonton, ada beberapa poin yang agaknya janggal di film ini, yaitu dari pencitraan Tokoh dan penyimpangan sejarahnya!!! namun yang paling menarik adalah sisi lain dari perang salib yang ditampilkan.

Film Kingdom of Heaven menampilkan sisi lain dari Perang Salib. Itulah perang yang diawali para pemeluk baru yang fanatik. Ada sebuah kalimat yang menjadi favorit saya,yaitu ketika Tiberias, pangeran dari Tripoli itu, menghentak kudanya menjauhi Yerusalem dan berkata. “Mulanya kupikir kita perang demi Tuhan, ternyata demi tanah dan kekayaan. Aku malu.” Ia undur, meninggalkan sendiri Balian, pangeran Ibelin yang memandang hamparan mayat pasukan Salib diserbu ribuan gagak (dan semua berubah ketika negara api menyerang,, #Apasih?). Kalimat ini terasa menohok bagi kita yang menonton adegan film Kingdom of Heaven. Sebuah kalimat yang, konon, oleh sutradara Ridley Scott ditujukan untuk Presiden Bush. Intinya: betapa pembelaan berlebihan pada yang suci bisa berakibat suatu paranoia yang fatal.

Inilah sebuah film dengan setting berabad-abad lampau, tapi masih aktual dipakai sebagai cermin masa sekarang. Film ini mengambil kisah nun jauh di tahun 1099 (Asek bahasa gue). Serombongan kafilah muslim Sarasin dibantai oleh
seorang baron bernama Reynauld de Chatillon, dan Saladin membalas. Yerusalem jatuh ke tangan Saladin, peristiwa yang akhirnya menggulirkan Perang Salib ke-3. Banyak teolog atau sejarawan yang menegaskan bahwa asal-usul Perang Salib tidak bersumber pada nilai-nilai agama Kristen atau Islam, dan film ini menyuguhkan sisi-sisi itu. Sisi yang sering dilupakan bahwa dari kedua belah pihak muncul banyak tokoh yang berusaha keras membina toleransi, menjaga gencatan senjata. Tapi akibat langkah baron-baron yang bermotif campuran antara ekonomi dan religi, sejarah pun mencatat enam kali tragedi besar itu berulang. Awal Perang Salib, kita tahu, adalah ketika kaum Turki Seljuk merangsek ke wilayah-wilayah Bizantium, dan mulai menjamah Anatolia. Ketika itu Bizantium (pusat kekristenan timur) yang sesungguhnya telah berpisah resmi dengan Roma (pusat kekristenan barat) pada 1054, meminta tolong pada Roma. Lalu, Paus Urbanus II di Konsili Clermont, November 1095, menyerukan sukarelawan seantero Eropa Barat agar bergabung.
Sejarah mencatat ksatria-ksatria Eropa kala itu: Inggris, Prancis terutama ujung tombaknya, kaum Frank Normandia mengalir ke Bizantium. Tanda-tanda salib ditempelkan pada bahu. Mereka bersatu padu menghalau Turki Seljuk dan kemudian mengarahkan diri merebut Yerusalem membebaskan makam suci Kristus. Menurut buku Dr Th. van den End dan Dr Christiaan de Jonge dari Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, ada persamaan antara tentara Normandia dan Turki Seljuk. Turki Seljuk baru saja masuk Islam, kaum Frank baru masuk Katolik. Keduanya fanatik dan masing-masing tengah mencari jati diri. Turki menentang kemapanan Arab, sementara kaum Frank mencari jiwa Kristen baru yang berbeda dengan Bizantium (Agamanya masih ABG gitu lah…) .Bila antara orang-orang Bizantium dan Arab telah belajar saling menghargai, siap hidup berdampingan antara Kristen dan Islam, tidak demikian halnya dengan kaum Turki dan Normandia waktu itu. Peradaban mereka masih rendah. Sementara itu, Bizantium dan Arab adalah ahli waris kebudayaan Helenis. Keduanya warga kosmopolitan yang telah lama saling tukar pengetahuan sehingga orang-orang Konstantinopel saat itu mungkin lebih betah tinggal di Kairo atau Bagdad daripada di Paris atau London.

Karen Armstrong, misalnya, menulis, ketika pasukan Salib berduyun-duyun datang dari seantero Eropa Barat ke Konstantinopel. Raja dan warga Konstantinopel kaget melihat betapa penyelamat mereka itu sangat barbar, buas, dan tak beradat. Warga Konstantinopel ketakutan sendiri. Sebaliknya, pasukan Salib semakin defensif begitu menyaksikan kemegahan dan keanggunan Konstantinopel. Bizantium sendiri tidak pernah memaknai perang melawan Turki Seljuk sebagai sebuah “perang suci” atau perang agama. Namun, di tangan pasukan Salib, itu menjadi sebuah perang religius. Dengan rasa percaya diri tinggi, sering sepanjang perjalanan pasukan Salib merasa dilindungi secara gaib oleh Santo George, Santo Demetrius, dan mendapat halusinasi dibimbing untuk
menemukan azimat-azimat, relik-reliktermasuk lembing suci yang dipakai untuk
menombak Kristus yang dianggap membawa kesaktian (Mitosnya pemegang tombak ini bisa selalu menjadi pemimpin agung, katanya Longinus si rabun yang menombak perut Yesus terciprat darah yesus di matanya dan langsung dapat melihat jelas). Pada 15 Juli 1099, Yerusalem takluk, seisi kota dibantai habis, dan Godfrey de Bouillon(difilm om Liam Neeson cuma jadi Knight yang di hormati doang) diangkat menjadi Raja Yerusalem.

Armstrong menerangkan, lambat-laun penghuni Yerusalem terbagi dua. Pertama, mereka yang mengawini masyarakat Timur Tengah setempat dan menjadi lebih toleran terhadap kaum muslim. Tiberias, misalnya, yang nama lainnya adalah Raymond, sehari-hari mampu berbicara Arab secara fasih, dan sosoknya lebih Timur daripada Barat kulitnya gelap. Kingdom of Heaven tak menampilkannya demikian. Salahudin Al-Ayubi yang digambarkan di film ini bukan karakter sebenarnya. Di film ini sang sutradara menggambarkan karakter Salahudin adalah orang yang pemurka, diceritakan Ia Murka ketika adiknya dibunuh dan lantas menyerang tentara kafir, ini membuat orang-orang beranggapan salahudin berperang untuk membalas dendam. Selain itu beberapa adegan dianggap tidak sesuai dengan sejarah aslinya. Seperti Raja Baldwin 4 yang aslinya merupakan karakter yang bengis dan suka berperang, di film digambarkan sebagai tokoh yang cinta damai. Dalam sesi penaklukan Yerusalem, dalam filmnya digambarkan Salahudin sejak awal Menyerang secara membabi buta tanpa memberikan peringatan atau tawaran untuk perundingan kepada tentara  kafir untuk menyerahkan diri. Kemudian pada akhir perang dimana di dalam film ini diceritakan tentara Islam mengalami kesulitan menaklukan Yerusalem kemudian baru Salahudi yang menawarkan perundingan, hal ini tentu menimbulkan kesan bahwa Salahudin adalah orang yang bar-bar dan tanpa perhitungan kontras dengan sejarah aslinya, dalam sejarah disebutkan bahwa Salahudin memberikan tawaran dan peringatan secara baik-baik kepada Yerusalem namun mereka menolaknya untuk menyerah. Dari cara dan strategi perang juga di dalam sejarah tersebut seorang anak buah salahudin yang menyelinap masuk ke benteng untuk membuka pintu gerbang bagi serangan tentara Islam ( prajurit Islam itu tidak pernah diketahui namanya karena permintaannya), berbeda dgn di film ketika Tentara Islam digambarkan menyerbu habis-habisan tembok yerusalem dan membombardir dengan Manjanik tanpa ampun. So memang Kingdom of Heaven adalah film yang bagus, tapi karna ini film , penonton harus memedakan bagian komersil yang bisa “menjual” film, dengan Sejarah seenarnya, be wise guys! ^_^v