Posts from the ‘Photography’ Category

Pilih gear yang sesuai minat fotografi anda

Fotografi, tentu perlu kamera dan lensa. Dengannya, berbagai macam foto bisa didapatkan tergantung hobi dan gaya memotret si empunya. Kamera jaman dulu yang cuma memakai lensa fix 50mm, bisa dipakai untuk banyak kebutuhan fotografi. Sejak era lensa zoom, fotografer makin dimanjakan karena bisa berkreasi dengan perspektif, sudut gambar dan komposisi yang beragam. Tapi tahukah anda, saat ini bila seseorang ingin lebih serius menekuni fotografi, gear atau peralatannya perlu semakin ditambah. Repotnya, beda hobi, beda keminatan fotografi bisa berbeda juga gearnya.

Kami coba ulas beberapa keminatan atau cabang fotografi yang umum saja, yaitu potret, landscape, makro dan sport/aksi. Ternyata untuk lebih bisa maksimal dalam menekuni hobinya, kita perlu lebih dulu menentukan minat dan cabang fotografi mana yang mau kita tekuni. Dari situlah baru kita bisa menginvestasikan gear yang sesuai dan efektif.

Foto potret

Ciri foto potret adalah adanya wajah manusia dalam foto (tentu saja kan..). Foto potret yang lebih disukai adalah yang latar belakangnya dibuat blur, supaya fokus atau atensi kita tertuju pada si orang yang difoto. Pencahayaan potret umumnya terbagi dua : alami dan buatan (atau gabungan keduanya). Cahaya alami akan sangat ditentukan waktu, arah cahaya dan sumbernya, sedang yang buatan biasanya dari fill flash hingga strobist. Foto potret juga diharapkan bisa menghasilkan warna kulit yang natural dan tidak terlalu tajam.

potret

Peralatan yang umum dipakai dalam fotografi potret :

  • kamera DSLR bebas
  • lensa fix dengan fokal menengah hingga tele (misal 50mm f/1.8 atau 85mm f/1.4)
  • lensa tele dengan bukaan besar (misal 70-200mm f/2.8)
  • lensa allround dengan bukaan besaar (misal 24-70mm f/2.8)
  • flash eksternal
  • aksesori flash : trigger, diffuser, payung, softbox, reflektor

softbox

Gambar diatas adalah contoh softbox dengan sumber cahaya sebuah lampu flash eksternal, yang cocok untuk membentuk cahaya buatan pada foto potret. Bila disimpulkan, foto potret identik dengan lensa bukaan besar untuk bokeh yang baik, lalu perlu flash dan aksesorinya untuk membentuk dan mengarahkan cahaya.

Foto landscape

Foto landscape sangat diminati karena sambil hunting bisa sambil travelling, bahkan menjurus ke adventure. Hasil foto landscape yang sukses juga bisa dibanggakan bahkan bisa dijual. Kendala landscape yang utama adalah pemilihan lokasi dan waktu yang tepat, lalu banyak faktor luar yang bisa bikin gagal (hujan, banyak turis, sunset tertutup awan dsb). Landscape memang tidak harus selalu identik dengan foto wideangle, meski memang harus diakui kalau wideangle bisa memberi kesan luas yang biasanya lebih disukai. Landscape juga perlu kejelian memilih obyek, seperti langit, pepohonan, air dan bebatuan. Masalah terberat landscape adalah kontras tinggi antara langit yang terik dan bumi yang lebih gelap. Tapi itulah tantangan dari foto landscape, dan banyak usaha yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala itu.

landscape

Gear para fotografer landscape :

  • kamera DSLR, resolusi tinggi lebih baik, weather sealed lebih baik
  • lensa wide/ultrawide untuk kesan luas (misal 12-24mm f/4)
  • lensa lain untuk antisipasi (bisa lensa allround seperti 24-70mm f/2.8 atau lensa sapujagat 18-200mm)
  • tripod, yang kokoh, berbahan karbon, yang kakinya bisa dibentangkan sangat lebar
  • filter (ND, gradual ND, CPL)
  • cable release

graduated_nd_filter

Gambar diatas adalah contoh filter graduated ND yang dipasang didepan lensa. Bila disimpulkan, foto landscape sering diidentikkan dengan gear berupa lensa wide, tripod dan filter ND/grad ND serta CPL. Dalam banyak kasus tidak dibutuhkan penggunaan flash eksternal.

Foto makro

Mendapatkan detail dari obyek yang sangat kecil tentu menantang, dan bila berhasil maka hasilnya akan menarik dan unik. Foto makro idealnya punya rasio reproduksi 1:1 alias life size. Tantangan foto makro adalah menemukan obyek yang menarik (obyek serangga akan lebih menantang karena sulit didekati) lalu kesulitan lain adalah di area fokus yang sempit (depan fokus, belakang blur) meski sudah mengecilkan bukaan. Selain itu makro identik dengan lensa yang tajam, dan bisa mengunci fokus dalam jarak dekat.

macro-ring-flash

Gear para fotografer makro :

  • kamera DSLR, resolusi tinggi lebih baik
  • lensa makro, dengan rasio reproduksi 1:1 (misal 60mm, 90mm atau 105mm)
  • lensa lain dengan teknik khusus (reverse lens atau extention tube)
  • close up filter
  • ring type flash (berbentuk bulat melingkari lensa)
  • tripod untuk mencegah blur saat memotret
  • alternatif murah lainnya : lensa zoom yang mengklaim bisa makro (misal 17-70mm) tapi lensa ini tidak bisa 1:1 sehingga belum layak disebut lensa makro

Bila disimpulkan, foto makro memang perlu lensa 1:1 dan akan lebih baik pakai flash khusus yang berjenis ring seperti contoh gambar diatas.

Foto sport/aksi

Ciri utama dari foto sport atau aksi adalah obyeknya bergerak, dan tujuan fotonya adalah membekukan gerakan untuk menangkap ekspresi atau momen yang diharapkan. Dari sini bisa dibayangkan tingkat kesulitan foto sport adalah kecepatan dan timing, sehingga selain pengalaman dibutuhkan juga gear yang mendukung minat fotografi ini. Faktor eksternal seperti cahaya lingkungan juga sangat menentukan tingkat kesulitan foto sport, karena kita tahu foto dengan shutter cepat tentu perlu cahaya banyak.

70-200s

Gear para fotografer sport :

  • kamera DSLR dengan kemampuan continuous shooting yang cepat, modul auto fokus yang akurat dan buffer yang besar
  • lensa tele dengan bukaan besar (misal 70-200mm f/2.8) dan motor fokus yang cepat (SWM untuk Nikon atau USM untuk Canon)
  • alternatif lensa murah : lensa tele dengan motor fokus yang cepat seperti AF-S 70-300mm, resikonya di kamera perlu menaikkan ISO ke angka tinggi untuk dapat shutter cepat
  • monopod untuk menahan bodi dan lensa supaya stabil
  • kartu memori dengan kecepatan tulis yang tinggi (misalnya kelas 10 untuk SD card)

Bila disimpulkan, gear yang cepat menjadi syarat wajib foto aksi (misal kamera dengan 8 fps), plus lensa bukaan besar untuk mendukung kecepatan kamera. Bila lensa bukaan besar terlalu mahal, bisa lensa lain dengan bukaan variabel tapi tetap harus yang punya motor fokus cepat seperti USM atau SWM. Untuk sport, jangan memakai lensa tele murah seperti Canon EF-S 55-250mm atau Nikon AF-S 55-300mm yang auto fokusnya lambat.

Dengan speed tinggi tripod memang tidak dibutuhkan, tapi sebuah monopod akan membantu untuk menahan bobot kamera dan lensa saat kita harus menunggu momen hingga berjam-jam lamanya.

Iklan

(Praktek Hukum Sunny 16) Mengatur diafragma dan kecepatan shutter dalam mode manual (M)

Manual mode (dilambangkan dengan huruf M) pada kamera digital disediakan bagi mereka yang ingin berkreasi dengan eksposure dalam fotografi. Intinya, kendali akan nilai shutter dan diafragma yang digunakan, sepenuhnya ditentukan oleh sang juru potret. Tidak seperti mode lain (P/A/S) yang menjadikan light-meter kamera sebagai penentu referensi eksposure yang tepat, pada mode M ini light-meter hanya menjadi indikator seberapa banyak eksposure yang kita tentukan mendekati eksposure yang dianggap tepat oleh kamera.Tantangan yang dihadapi dengan memakai mode manual ini hanya dua : kalau kita salah menentukan eksposure, hasil foto bisa menjadi under-exposed (terlalu gelap) atau justru menjadi over-exposed (terlalu terang). Tujuan fotografi yang baik tentu menghindari adanya over atau under pada sebuah foto yang mana perlu adanya kendali akan eksposure yang tepat dan teliti.
Sekedar mengingat tulisan saya terdahulu soal optimalkan fitur manual pada kamera, bukaan diafragma dan kecepatan shutter memegang peranan utama dalam menentukan nilai eksposure. Diafragma menentukan seberapa banyak intensitas cahaya yang dibolehkan untuk masuk ke kamera secara bersamaan, sementara shutter menentukan seberapa lama cahaya mengenai sensor sebelum foto diambil. Sebagai pedoman dalam fotografi, dikenal istilah f-stop, yang intinya menyatakan seberapa banyak penambahan atau pengurangan intensitas cahaya yang memasuki kamera (Exposure value/Ev). Setiap kelipatan 1-stop artinya kita menambah cahaya dua kali lipat dari nilai stop sebelumnya, atau mengurangi cahaya setengah dari nilai stop sebelumnya.
Pengaturan bukaan diafragma
Untuk dapat mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk melalui lensa, diafragma pada lensa kamera bisa membuka dengan besaran diameter yang bisa dirubah. Besar kecilnya bukaan diafragma dinyatakan dalam f-number tertentu, dimana f-number kecil menyatakan bukaaan besar dan f-number yang besar menyatakan bukaan kecil. Selain itu, secara karakteristik optik lensa, bukaan besar akan membuat foto yang DOFnya sempit (background bisa blur), dan bukaan kecil akan membuat DOF lebar (background tajam).
Saat mengatur nilai diafragma (aperture), ingatlah bahwa setiap stop ditandai dengan nilai f-number tertentu yang digambarkan dalam deret berikut, urut dari yang besar hingga kecil  :
f/1 – f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11– f/16 – f/22 – f/32 dst
Sebagai contoh :
  • jika kita berpindah 1-stop dari f/2 ke f/2.8, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari f/8 ke f/5.6, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya
Perhatikan kalau kamera modern umumnya memberi keleluasaan untuk merubah diafragma di skala yang lebih kecil, dalam hal ini perubahan f-stop dilakukan pada kelipatan 1/2 hingga 1/3 f-stop sehingga bisa didapat banyak sekali variasi eksposure yang bisa didapat dari mengatur nilai diafragma. Sebagai contoh, diantara f/5.6 hingga f/8 bisa terdapat f/6.3 dan f/7.1 yang memiliki rentang 1/3 stop.
tabel-diafragma
Percobaan di bawah ini menunjukkan hasil foto yang didapat dari variasi diafrgama, dengan sebuah foto referensi di f/5.6 (nilai shutter dibuat tetap di 1/125 detik dan ISO 100). Tujuannya untuk melihat bagaimana efek dari merubah bukaan diafragma terhadap eksposure foto yang dihasilkan. Terdapat 3 foto yang over dengan kelipatan 1-stop dan 3 foto yang under dengan kelipatan 1-stop.
contoh-variasi-diafragma
Dari contoh di atas tampak pada 3 stops diatas referensi normal, foto tampak amat terang (over) yang ditandai dengan banyaknya area yang wash-out (highlight-clipping). Demikian juga pada 3 stops dibawah referensi normal, foto tampak amat gelap (under).
Pengaturan kecepatan shutter
Sama halnya dengan diafragma, setelan kecepatan shutter pun punya pedoman berupa deret yang mewakili 1-stop. Berikut adalah variasi kecepatan shutter dengan kelipatan 1-stop, urut dari yang lambat hingga yang cepat ( d menyatakan detik ) :
1d – 1/2d – 1/4d  – 1/8d – 1/15d – 1/30d – 1/60d – 1/125d – 1/250d – 1/500d –1/1000d
Sebagai contoh :
  • jika kita berpindah 1-stop dari 1 detik ke 1/2 detik, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari 1/60 detik ke 1/30 detik, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya
Percobaan di bawah ini menunjukkan hasil foto yang didapat dari variasi kecepatan shutter, dengan sebuah foto referensi di 1/125 detik (nilai diafragma dibuat tetap di f/5.6 dan ISO 125). Tujuannya untuk melihat bagaimana efek dari merubah kecepatan shutter terhadap eksposure foto yang dihasilkan. Terdapat 3 foto yang over dengan kelipatan 1-stop dan 3 foto yang under dengan kelipatan 1-stop.
contoh-variasi-shutter
Dari gambar di atas terlihat bahwa semakin cepat shutter speednya, maka cahaya yang masuk ke dalam sensor akan semakin kecil sehingga gambar menjadi lebih gelap. Begitu juga sebaliknya untuk kecepatan yang semakin lambat, cahaya yang masuk akan bertambah banyak sehingga gambar menjadi lebih terang. Dengan kata lain, kita bisa menyatakan bahwa di 1/500 detik hasil fotonya under exposed sebanyak 2 stops dan di 1/30 detik fotonya over exposedsebanyak 2 stops.
Reciprocity
Maka itu dalam memakai mode manual, perubahan nilai diafragma tidak bisa mengabaikan nilaishutter dan sebaliknya. Artinya untuk mendapat eksposure yang tepat, baik diafragma danshutter memegang peranan yang sama. Ada sebuah istilah penting dalam berkreasi dengan eksposure, yaitu reciprocity, dimana artinya adalah bagaimana setelan shutter dan diafragma harus saling berlawanan untuk meniadakan efeknya. Jadi bila kita mengekspos sensor dengan waktu yang lebih lama, maka secara di sisi yang lain kita mengecilkan bukaan diafragma untuk mengurangi cahaya yang masuk sehingga bisa mendapat eksposure yang sama. Prinsipnya sebuah eksposure konstan bisa didapat dari berbagai variasi nilai shutter dan diafragma, selama mempertahankan prinsip reciprocity ini.
Untuk mencobanya, siapkan kamera anda dan gunakan mode manual. Bila kamera sudah berada di nilai eksposure yang tepat, coba naikkan diafragmanya 1 stop sehingga indikatorlight-meter akan menunjukkan eksposure bergeser -1 stop. Selanjutnya kurangi kecepatanshutternya 1 stop, tampak indikator light-meter akan kembali ke nilai eksposure normal. Begitulah cara kerja reciprocity, kalau yang satu ditambah, satu lagi dikurangi, sehingga hasil akhirnya tetap sama.
contoh-reciprocity
Contoh diatas menunjukkan beberapa variasi reciprocity yang memberi eksposure konstan. Dari percobaan ini tampak bahwa untuk menjaga supaya eksposure tetap sama, nilai diafragma danshutter harus saling berlawanan. Bila membuka diafragma besar (f/2), maka shutter harus dibuat cepat (1/1000 detik). Bila mengecilkan diafragma (f/16), konsekuensinya shutter harus dibuat lebih lama (1/15 detik). Inilah esensi dari prinsip reciprocity. Perhatikan dengan bukaan diafragma besar (f/2 hingga f/2.8), didapat foto yang punya background blur, sebaliknya dengan bukaan kecil (f/11 hingga f/16) didapat background dan objek yang sama-sama tajam.

(Buat yang doyan edit foto wajib tau ini!!) Hal-hal yang mungkin tidak anda ketahui seputar kamera digital

Saat ini hampir semua orang punya kamera digital, minimal kamera yang ada pada ponsel. Kehadiran kamera digital ini sudah banyak merubah cara hidup kita, dengan begitu mudahnya memotret, mengedit, mencetak dan menghapus bila perlu. Tidak perlu beli film, tidak perlu mencuci ke negatif, bahkan foto digital tidak harus selalu dicetak diatas kertas. Dengan hadirnya kemudahan dari alat yang bernama kamera digital ini, hampir sebagian besar diantara kita sudah tidak peduli lagi akan bagaimana cara kerja dari sebuah kamera dan hal-hal teknis apa yang terjadi saat kita memotret.
Kali ini sebagai bahan masukan saja, saya sajikan hal-hal yang mungkin anda belum tahu soal bagaimana kamera digital itu bekerja, atau hal-hal apa yang berkaitan dengan kamera digital. Meski anda tidak tahu sekalipun, pada dasarnya ini tidak berpengaruh pada foto yang anda hasilkan. Namun dengan mengetahui hal-hal berikut, setidaknya anda dapat lebih mengenali dunia fotografi digital.
Fakta dan info seputar sensor :

  • Fotografi digital menggunakan sensor peka cahaya sebagai pengganti film. Oke kita semua tahu itu. Tapi tahukah anda bahwa di dalam sensor (entah CCD atau CMOS) yang mengandung jutaan piksel peka cahaya itu ternyata adalah rangkaian analog dan bukan digital? Hasil keluaran dari sensor harus diubah dulu kedalam data digital dengan suatu kedalaman warna tertentu entah itu 8 bit, 12 bit atau 14 bit.
  • Pada dasarnya sensor tidak bisa mengenali warna, atau istilahnya buta warna. Maka itu diperlukan lapisan filter warna khusus sehingga sensor bisa memberikan hasil foto yang penuh warna. Filter ini ada beberapa jenis, seperti Bayer filter, Kodak filter dan Foveon X3 filter.
  • Hampir semua kamera digital memakai filter warna Bayer yang berbasis RGB, namun dengan warna hijau 2 kali lebih banyak dari warna merah dan biru. Kelemahan filter Bayer adalah tiap piksel hanya diwakili oleh satu warna (entah merah, biru atau hijau) sehingga perlu suatu metoda yang mengakali hal ini supaya sensor mampu menangkap semua elemen warna yang ada. Teknik ini dinamai Bayer interpolation yang meski kuno (ditemukan tahun 1976) namun masih tetap dipakai hingga kini.
  • Saat berbicara soal dynamic range, umumnya kita berbicara soal seberapa halus tiap piksel peka cahaya pada sensor mampu menerjemahkan intensitas cahaya ke dalam besaran tegangan. Perhatikan kalau piksel berukuran besar (seperti pada DSLR) mampu membedakan terang gelap lebih baik dibanding piksel pada kamera saku (apalagi kamera ponsel). Maka itu kamera saku dan kamera ponsel lebih mudah mengalami highlight clipping atau area putih yang blown/terbakar.
  • Sebagian kita menafsirkan dynamic range adalah seberapa halus kedalaman warna (gamut) yang dihasilkan oleh rangkaian ADC yang digunakan untuk mengkonversi tegangan output sensor ke dalam bilangan bit. Meski tidak salah, kedalaman warna yang umumnya anatara 8 bit hingga 14 bit ini tidak banyak berpengaruh apabila rasio sensor dan piksel/resolusi sudah di ambang batas kritis (seperti sensor 14 MP yang berukuran 1/1.7 inci).

Fakta dan info seputar file RAW dan JPEG :

  • Tahukah anda kalau file format RAW adalah file mentah yang langsung diambil dari sensor tanpa melalui proses Bayer Interpolation? File RAW juga tidak sedikitpun mengalami setting contast-WB-sharpness-saturation sehingga anda bisa berkreasi dengan berbagai setting itu lewat komputer. Sebagai resikonya, file RAW memakan file space cukup besar hingga belasan mega bytes.
  • Pada tahun 2000 telah diumumkan teknologi JPEG yang lebih baik dalam melakukan kompresi gambar, namun hingga detik ini format yang bernama JPEG 2000 itu belum kunjung diaplikasikan pada kamera digital manapun.
  • Kompresi JPEG adalah berjenis lossy compression sehingga ada bagian dari gambar yang akan mengalami penurunan kualitas. Umumnya kamera memberi pilihan kompresi JPEG yang akan digunakan, dan dinyatakan dalam setting quality. Ada dua hingga empat pilihan semisal : basic, fine, super fine dsb. Kompresi terbaik menghasilkan sedikit penurunan kualitas, namun memakan file space lebih besar.

Fakta dan info seputar white balance (WB) :

  • Prinsip kerja WB adalah menjaga sebuah benda putih akan tetap tampak putih saat difoto memakai sumber cahaya apapun. Namun dalam istilah yang lebih keren, WB adalah pengaturan kompensasi temperatur warna (dinyatakan dalam Kelvin) sehingga hasil foto memberikan warna yang akurat.
  • Hampir sebagian dari kita memilih mode auto white balance saat memotret. Salah? Tidak juga. Namun tahukah anda kalau kamera terkadang salah dalam menentukan WB? Saat ini terjadi, foto akan nampak terlalu kebiruan atau terlalu kemerahan.
  • Tiap sumber cahaya punya temperatur warna yang berbeda. Cahaya dari sebatang lilin sekitar 1500 K, dan cahaya matahari siang hari sekitar 10.000 K. Perbedaan ini tidak nampak bila dilihat dengan mata, namun kamera bisa memberi warna yang salah saat setting WB ini tidak tepat.
  • Untuk akurasi warna tinggi dibutuhkan manual / custom white balance berbantuan grey card (ya, abu-abu dan bukan putih). Mengapa abu-abu? Karena dia punya medium tonedan neutral hue. Bingung? Saya juga…. :)

Fakta dan info seputar eksposure :

  • Dasar fotografi hanya tiga, oke kita masih ingat itu : shutter – aperture – ISO. Tapi tahukah anda bahwa ketiganya bergantung dari modul light meter yang mengukur cahaya berdasar setting metering yang kita tentukan (matrix, center weight atau spot meter)?
  • Light meter kamera tidak akurat dalam mengukur cahaya. Prinsip kerjanya hanya mengukur cahaya yang ditangkap dari pantulan objek dan paling optimal saat mengukur benda berwarna 18% luminance (middle grey). Nah lho.. Kalau benda yang diukur lebih terang atau lebih gelap dari middle grey, metering kamera akan meleset. Untuk itu kompensasikan dengan Ev.
  • Cara termudah mengevaluasi ketepatan eksposure adalah melihat histogram, baik sebelum atau sesudah foto diambil. Beberapa kamera hanya menampilkan luminancehistogram yang sebenarnya adalah perwakilan dari histogram warna hijau, dan sebagian kecil lainnya menampilkan RGB histogram lengkap. Bahkan kontras tidaknya sebuah foto juga dapat dilihat dari histogram ini.

Fakta dan info seputar auto fokus :

  • Dahulu kala semua kamera itu manual fokus. Teknologi auto fokus lalu hadir dengan membawa perubahan besar di dunia fotografi. Pada DSLR prinsip kerjanya memakai deteksi fasa, pada kamera digital lain memakai deteksi kontras.
  • Tahukan anda kalau sistem auto fokus pada kamera tidak suka akan objek yang flat, tanpa kontras dan monoton? Cobalah mengunci fokus pada bidang tembok yang datar dan warnanya seragam, tentu kamera akan berulang kali mencari fokus kemudian menyerah..
  • Salah satu faktor yang membuat DSLR mahal adalah modul auto fokusnya. Modul ini punya beberapa titik sensor dimana semakin banyak titik maka makin mahal modul tersebut. Apalagi bila titik sensor itu berjenis cross-type yang lebih sensitif, maka DSLR itu sudah tergolong kelas mahal.

Aneka kesalahan yang biasa dilakukan pemula saat memotret

Sering sekali orang menyatakan bahwa dirinya adalah fotografer pemula yang bertanya mengenai kamera apa yang cocok untuknya. Saya agak bingung juga karena yang dimaksud dengan pemula itu sendiri batasnya tidak jelas, bahkan saya pun masih merasa jadi pemula dalam urusan foto-memfoto. Mungkin istilah pemula (dari asal kata : mula / awal / beginner)dalam fotografi bisa dikaitkan dengan fotografer amatir / amateur, atau non profesional / non komersil dan bisa juga pemula diidentikkan dengan mereka yang sedang belajar (teori dan praktek) fotografi. Inipun belum termasuk mereka (yang bisa disebut pemula) yang membeli kamera hanya sekedar untuk urusan dokumentasi keluarga dan tidak mau dipusingkan soal istilah-istilah fotografi. Karena blog ini dibuat dari pemula untuk pemula, maka tulisan kali ini hanya ditujukan untuk sekedar sharing pengalaman seputar aneka kesalahan yang biasa dilakukan oleh fotografer pemula.
Kamera digital sebagai sarana fotografi sering jadi tolok ukur / benchmark dalam menentukan kualitas hasil foto. Diyakini dengan semakin canggihnya kamera (diindikasikan dengan banyaknya setting dan parameter) maka kamera akan memberi hasil yang lebih baik. Namun banyak yang tidak menyadari kalau kamera yang punya banyak setting akan membuka banyak kemungkinan salah dalam memilih setting yang sesuai, apalagi kamera digital punya setting yang lebih banyak dari sekedar shutter, aperture dan ISO.
Langsung saja, kenali dan evaluasilah aneka kesalahan umum yang biasa dialami oleh para fotografer pemula berikut ini :
  • yang paling mendasar : kurang teori dan/atau praktek fotografi
  • mendasar : salah menentukan nilai eksposur -> shutteraperture dan ISO
  • tidak jeli memperhitungkan pencahayaan saat itu, terkadang menurut mata kita masih cukup terang ternyata kamera menganggap sudah mulai gelap
  • salah memutuskan penggunaan lampu kilat, kadang saat diperlukan kita justru lupa mengaktifkannya
  • membiarkan lampu kilat dalam mode ‘Red Eye’ yang akan menyala beberapa kali sebelum memotret, sehingga akan menyebabkan kita ketinggalan momen (biasanya pada kamera saku)
  • salah menentukan titik fokus yang diinginkan (bila kameranya bisa memilih titik fokus) sehingga mana yang tajam mana yang blur jadi terbalik
  • tidak memakai format RAW saat memotret sesuatu momen yang amat penting
  • terlalu percaya pada mode AUTO (berlatihlah memakai mode A/S/M bila ada)
  • tidak memakai setting white balance yang tepat (misal harusnya flourescent tapi pilih WB tungsten)
  • memakai pilihan metering yang tidak tepat (apalagi saat terang gelapnya objek foto tidak merata / area kontras tinggi)
  • lupa memeriksa setting kompensasi eksposur (Ev) yang beresiko membuat foto jadi under / over-exposed
  • tidak mengkompensasi eksposure (Ev) secara manual (ke arah plus atau minus) saat metering kamera memberi hasil yang tidak sesuai dengan keinginan kita
  • tidak meluangkan waktu untuk melihat histogram (baik sebelum atau sesudah memotret) padahal di saat terik matahari, layar LCD kamera tidak lagi akurat untuk mengukur eksposure
  • lupa mengaktifkan fitur image stabilizer (bila ada) saat diperlukan, seperti saat speed rendah atau saat memakai lensa tele)
  • tidak berupaya mendapat sweet spot lensa saat perlu foto yang tajam (menghindari fokal lensa ekstrim danstop down dari bukaan maksimal)
  • tidak membawa baterai cadangan, khususnya yang berjenis AA/NiMH
  • tidak mengaktifkan AF-assist beam/strobe saat low-light yang menyebabkan kamera kesulitan mencari fokus
  • tidak sengaja menghapus sebuah foto (ups…)
  • tidak memakai tripod saat memakai shutter lambat (dibawah 1/20 detik)
Adapun aneka kecerobohan dalam penggunaan kamera yang beresiko membuat kamera anda rusak diantaranya :
  • tidak berhati-hati menjaga lensa dari sidik jari, cipratan air bahkan benturan (impact)
  • lupa mematikan kamera saat mengganti lensa atau kartu memori (jujur saya sesekali pernah tanpa sengaja melakukan hal ini, untungnya kamera saya tidak sampai rusak)
  • membawa kamera dengan menggenggam lensanya (untuk DSLR dengan lensa ber-mounting plastik ini bisa mengundang resiko patah)
  • memasang filter dengan memutarnya terlalu kuat (untuk lensa kit yang masih memakai sistem rotating lensseperti lensa kit Canon / Nikon 18-55mm) yang beresiko merusak motor di dalam lensa
  • mengarahkan kamera anda ke matahari di siang hari bolong (don’t do that…!)
  • meniup debu yang menempel di sensor (maaf, air liur anda bisa terciprat ke sensor dan membuat masalah semakin runyam…) -> solusi, gunakan peniup debu yang tersedia khusus untuk kamera
Tentu saja hal-hal seperti ini perlu dicermati guna mencegah gagalnya foto-foto penting atau hingga rusaknya peralatan anda. Sayang kan saat peristiwa yang difoto ternyata hasilnya mengecewakan karena kita melakukan kesalahan yang tampaknya sepele tapi amat berpengaruh?
Apakah anda ingin berbagi pengalaman soal kesalahan / keteledoran yang mungkin pernah anda lakukan? Dengan berbagi pengalaman anda di sini semoga bisa jadi bahan pelajaran buat pembaca yang lain.

ORANG PERTAMA YANG MENEMUKAN FOTOGRAFI DAN KAMERA

https://i2.wp.com/i218.photobucket.com/albums/cc129/truebluesky/people/LouisDaguerre.jpg
Fotografi! Tak lain dari Louis Jacques Mande Daguerre-lah orang yang di tahun 1830-an berhasil menemukan fotografi praktis.Daguerre dilahirkan tahun 1787 di kota Cormeilles di Perancis Utara. Waktu mudanya dia seniman. Pada umur pertengahan tiga puluhan dia merancang “diograma”, barisan lukisan pemandangan yang mempesona bagusnya, dipertunjukkan dengan bantuan efek cahaya. Sementara dia menggarap pekerjaan itu, dia menjadi tertarik dengan pengembangan suatu mekanisme untuk secara otomatis melukiskan kembali pemandangan yang ada di dunia tanpa menggunakan kwas atau cat. Dengan kata lain: kamera!

Tingkat pertama perancangan alat kamera yang bisa berfungsi tidak berhasil. Di tahun 1827 dia ketemu Joseph Nicephore Niepce yang juga sedang mencoba (dan sejauh itu lebih sukses) menciptakan kamera. Dua tahun kemudian mereka menjadi kongsi. Di tahun 1833 Niepce meninggal, tetapi Daguerre tetap tekun meneruskan percobaannya. Menjelang tahun 1837 dia sudah berhasil mengembangkan sebuah sistem praktis fotografi yang disebutnya “daguerreotype.”
Tahun 1839 Daguerre memberitahu publik secara terbuka tanpa mempatenkannya. Sebagai imbalan, pemerintah Perancis menghadiahkan pensiun seumur hidup kepada baik Daguerre maupun anak Niepce. Pengumuman penemuan Daguerre menimbulkan kegemparan penduduk. Daguerre merupakan seorang pahlawan saat itu, ditaburi rupa-rupa penghormatan, sementara metode “daguerreotype” dengan cepat berkembang menjadi hal yang digunakan oleh umum. Daguerre sendiri segera pensiun. Dia meninggal tahun 1851 di kota asalnya dekat Paris.

Tak banyak penemuan teknologi yang begitu banyak digunakan awam seperti halnya fotografi. Dia digunakan di hampir tiap bidang penyelidikan ilmu. Begitu juga di bidang industri dan militer. Sarana yang vital di kalangan rakyat biasa, hobbi menyenangkan buat berjuta orang. Fotografi ambil bagian dalam penyebaran penerangan (atau penipuan untuk mengelabui orang lewat informasi palsu), di bidang pendidikan, jurnalistik dan iklan. Berhubung fotografi mampu dengan cepat mengingatkan orang akan masa lampaunya, dia menjadi sarana suvenir dan kenang-kenangan yang tersebar luas. Sinematografi, tentu saja, merupakan perkembangan berikutnya yang punya arti penting-selain melayani dan merupakan sarana hiburan yang tak bisa diabaikan-juga saina banyak digunakan setara dengan foto “diam.”

Tak ada penemuan ilmiah yang dilakukan oleh seseorang sendirian tanpa ada petunjuk dari orang-orang sebelumnya seperti Daguerre. “Kamera obscura” (alat serupa dengan kamera tetapi tanpa film) telah diketemukan orang delapan abad sebelum Daguerre. Di abad ke-16, Girolamo Cardano membuat langkah menempatkan lensa di muka “kamera obscura” terbuka. Ini merupakan langkah penting menuju lahirnya kamera modern. Tetapi karena bayangan yang dihasilkan tidak tahan lama samasekali, sulitlah dianggap sebuah fotografi. Penemuan pemula lainnya diketemukan tahun 1727 oleh Johann Schulze yang menemukan bahwa garam perak sangat sensitif terhadap cahaya. Meskipun dia gunakan penemuan ini untuk membuat gambar sementara, Schulze tak punya gambaran bagaimana cara semestinya meneruskan gagasannya.
Pendahulu yang dekat dengan apa-apa yang berhasil diperbuat Daguerre adalah Niepce yang kemudian menjadi partner Daguerre. Sekitar tahun 1829 Niepce menemukan bahwa batuan tebal hitam dari Judea, sejenis aspal, sangat peka terhadap cahaya. Dengan menggabungkan benda peka cahaya dengan “kamera obscura,” Niepce berhasil membuat foto pertama di dunia (salah satu yang dijepretnya tahun 1826 masih ada hingga sekarang). Atas dasar itu, beberapa orang menganggap Niepce-lah yang layak dianggap sebagai penemu fotografi. Tetapi sistem fotografi Niepce sepenuhnya tidak praktis karena memerlukan tidak kurang dari delapan jam untuk pengambilannya dan itu pun cuma menghasilkan gambar yang guram.
Kamera resmi Daguerre yang diprodusir iparnya, Alphonse Girous, dibubuhi cap yang berbunyi: “Tanpa tanda tangan M. Daguerre dan tanda M. Giroux, tidak terjamin.”karena itu punya arti praktis yang berlebih.

Pada metode Daguerre, gambar direkam di atas lembar yang berlapis “iodide perak”. Waktu pengambilan yang dibutuhkan antara 15-20 menit sudah cukup memadai walau berabe bawanya karena berat, toh berguna. Dua tahun sesudah Daguerre mempertunjukkan ciptaannya di depan umum, orang-orang usul penyempurnaan: penambahan “cairan perak” pada “iodide perak” yang peka cahaya. Perubahan kecil ini punya pengaruh banyak mengurangi waktu yang diperlukan buat pemotretan, karena itu punya arti praktis yang berlebih.

Tahun 1839, sesudah Daguerre mengumumkan secara terbuka hasil penemuan fotografinya, William Henry Talbot, seorang ilmuwan Inggris, memberitahukan pula bahwa dia telah mengembangkan metode fotografi lain, lewat cara pencetakan negatif, seperti dilakukan orang sekarang ini. Menarik untuk dicatat, Talbot sesungguhnya sudah memprodusir alat potret di tahun 1835, dua tahun sebelum keluarnya model Daguerre. Talbot, yang juga melibatkan diri dalam pelbagai proyek, tidak lekas-lekas meneruskan eksperimen fotografinya. Kalau saja hal ini dilakukannya, mungkin sekali dia bisa memprodusir alat potret yang komersil sebelum Daguerre melakukannya, dan bisa dianggap sebagai penemu fotografi.

Tahun-tahun sesudah Daguerre dan Talbot, beruntun dilakukan orang pelbagai penyempurnaan: proses lembaran basah, proses lembaran kering, rol film modern, film berwarna, film bioskop, polaroid dan xerografi. Kendati banyak orang yang terlibat dalam pengembangan fotografi, saya anggap Louis Daguerre-lah orang yang paling banyak beri sumbangan pikiran. Tak ada sistem yang patut dipakai sebelum Daguerre dan sistem yang dikembangkannya paling praktis dan paling diterima secara luas. Lebih dari itu, penyiaran yang luas dari hasil penemuannya merupakan daya dorong buat penyempurnaan-penyempurnaan selanjutnya. Memang benar, fotografi yang kita kenal sekarang jauh berbeda dengan sistem Daguerre, tetapi walaupun misalnya tidak ada penyempurnaan apa pun, toh apa yang dibuat Daguerre sudah dapat dimanfaatkan.

10 foto berwarna pertama di dunia

Di era digital yang serba canggih ini, seorang fotografer bisa menghasilkan gambar dengan sangat sempurna, tapi tahukah kamu dulu tidak semudah itu? namun foto-foto berwarna pertama ini tentu menyimpan keunikannya sendiri serta mempunyai “nilai” yang tinggi pastinya.

Foto Biara Svetlitsa Island, Saint Nihil Stolbenskii Biara, Danau Seliger Tahun 1910 oleh Sergei Mikhailovich Prokudin
Kereta Api Trans-Siberia di atas Sungai Kama dekat Perm, Pegunungan Ural Daerah tahun 1910 oleh Sergei Mikhailovich Prokudin-Gorskii
Pabrik tekstil katun interior di Tashkent antara tahun 1905 dan 1915 Sergei Mikhailovich Prokudin-Gorskii
Petani perempuan, Kekaisaran Rusia yang sedang menawarkan buah berry di daerah pedesaan di sepanjang Sungai Sheksna, dekat kota Kirillov foto diambil tahun 1909
Salah satu sisi dari Altar Dmitrievskii Katedral, Vladimir tahun 1911
Pria yang duduk di ambang pintu yurt di latar depan, antara 1905 dan 1915.
Isfandiyar, Khan dari protektorat Khorezm Rusia, antara tahun 1910 dan 1915.
Bashkir switchman, tahun 1910
Laki-laki dan unta penuh dengan barang bawaannya antara 1905 dan 1915

Fotografer berpose dengan dua orang lain, 1915.

Top Ten Entry-Level DSLR Camera / 10 Kamera DSLR Terbaik Untuk Pemula

Buat kamu yang baru mendalami dunia fotografi ada baiknya mengetahui 10 kamera DSLR terbaik tahun ini, siapa tahu kamu tertarik,, cekidot!!!!

1. Canon Rebel T3i

2. Nikon D5100

3. Sony SLT-A55

4. Canon Rebel T2i

5. Nikon D3100

6. Canon Rebel T1i

7. Sony SLT-A35

8. Canon Rebel XS

9. Olympus E-PL2

10. Olympus E-620